Liputan Kemeriahan TurTeN IA-ITB 2019

Pada hari Sabtu-Minggu (13-14 Juli 2019), Persatuan Tenis Ganesha (PTG) menyelenggarakan turnamen tenis bertajuk GIC (Ganesha ITB Cup) 2019. Setelah dua tahun sebelumnya selalu diselenggarakan di Bandung, tahun ini turnamen bertempat di lapangan tenis Klub Kelapa Gading, Jakarta Utara.

GIC 2019 adalah seri ke-11 dari turnamen yang diselenggarakan rutin tiap tahun. Menjadi kebanggaan tersendiri bagi PTG karena sejak pertama kali diselenggarakan, turnamen ini belum pernah terputus. Turnamen tahun ini diikuti oleh kurang lebih 150 peserta yang merupakan alumni Institut Teknologi Bandung dan istri/anak perempuan alumni ITB. Terdapat delapan kategori pertandingan yang dimainkan, yaitu tunggal bebas, ganda campuran, serta berbagai ganda putra sesuai kategori usia (bebas, 35 tahun, 45 tahun, 50 tahun, 55 tahun, 60 tahun). Ganda putra 50 tahun adalah kategori baru yang diperkenalkan tahun ini untuk menambah sengit kompetisi sedangkan Ganda putra 60 tahun adalah modifikasi yang sebelumnya untuk 65 tahun ke atas dengan maksud meningkatkan animo petenis senior dalam turnamen ini.

Bagi para maniak tenis ITB, GIC selalu menjadi momen untuk berkumpul, bersilaturahmi, sekaligus pamer kemampuan. Maka tidak heran jika selama penyelenggaraan turnamen, aroma kekeluargaan dan saling tebar ancaman melebur menjadi satu.


Hari Ke-1

Pukul 06.00 panitia sudah bersiap-siap untuk mempersiapkan kegiatan. Peserta turnamen ternyata banyak yang sudah tidak sabar. Pukul 06.15 satu per satu peserta datang untuk melakukan pemanasan. Bahkan, ketika tim logistik masih sedang menyiapkan goodie-bag banyak peserta yang tidak sabar untuk segera melakukan registrasi ulang.

Pembukaan turnamen GIC 2019 dimulai pukul 08.00. Pembukaan turnamen dihadiri oleh Bapak Ridwan Djamaluddin selaku ketua PP IA-ITB dan Bapak Wawan Gunawan selaku wakil rektor bidang yang mewakili rektorat ITB.

Pada hari pertama, banyak kejutan terjadi terutama di kategori tunggal putra. Deni Zuliansyah yang tidak diunggulkan, dapat melaju hingga babak semifinal setelah mengalahkan Fajar Kharisma (unggulan ke-5) dan Sandi Gunawan (unggulan ke-1). Sementara Arthur Hutabarat yang merupakan unggulan ke-6 kalah oleh Lukman Setiawan, petenis asal Abu Dhabi, yang belum masuk daftar seeded.

Langkah Deni Zuliansyah patut diacungi jempol!

Pada babak 16 besar, Fajar Kharisma yang merupakan finalis tahun lalu berhasil dikalahkan melalui tie break. Lalu pada babak 8 besar, Deni yang kembali menghadapi unggulan menampilkan perjuangan yang tidak kenal lelah. Kejar-kejaran skor berjalan bak roller coaster. Sempat unggul 2-0 terlebih dahulu, Deni lantas disusul 5 game langsung oleh Sandi sehingga game menjadi 5-2 untuk Sandi. Bermodalkan pukulan slice yang tajam dan variatif, Deni berganti menyapu 5 game langsung sehingga kedudukan menjadi 7-5 untuk Deni.

Sandi yang sarat pengalaman dengan tenang menyusul hingga kedudukan menjadi 7-7 dan harus diputuskan melalui tie-break. Setelah berjuang selama 1 jam lebih, Deni akhirnya dapat memenangkan pertandingan.

Menurut kebijakan panitia, hari pertama seluruh kategori harus sudah menyelesaikan pertandingan hingga babak quarter final. Hal ini agar pada hari ke-2, turnamen bisa selesai sebelum larut malam karena hari Senin banyak alumni yang harus kembali beraktivitas.

Partai terakhir hari pertama mempertandingkan babak quarter final antara Tigor/Igtiander vs Arthur/Eggy yang bertanding di kategori ganda 45. Pertandingan yang akhirnya dimenangkan oleh pasangan Tigor/Igtiander baru selesai pukul 21.20 dengan penonton yang setia menemani meski rela digigiti oleh nyamuk.


Hari Ke-2

Hari ke-2 menyelenggarakan babak semifinal dan final. Pukul 08.00 pertandingan semifinal pertama sudah dimulai. 

Hari pertama yang cukup panjang ternyata memiliki efek yang berbeda bagi tiap-tiap pemain. Ada yang begitu senang dapat melaju ke babak semifinal dan mengamankan podium sehingga tidurnya nyenyak, ada juga yang karena terlalu capek bertanding di hari pertama justru tidak bisa tidur di malam hari.

Pada babak semifinal, Deni Zuliansyah yang membuat kejutan di hari pertama harus terhenti di tangan Andi Cakravastia (Icak). Pukulan slice yang menjadi andalan Deni Zuliansyah, tidak berkutik menghadapi permainan Icak yang mengandalkan pukulan spin dan servis twist penuh tenaga. Icak sebagai unggulan ke-3, akhirnya melaju ke babak final setelah unggul 8-5.

Babak semifinal yang lain mempertemukan Heri Bintoroe yang merupakan juara tahun lalu dengan Reynaldi Prasetyo (Tyo). Heri Bintoroe yang tahun ini diunggulkan pada posisi ke-3 terkenal sebagai pemain yang mengandalkan endurance dan penempatan bola yang cermat. Sementara Tyo memiliki tipe permainan menyerang dengan mengandalkan forehand dan backhand yang sama-sama bertenaga.

Semula Tyo tampak tidak maksimal ketika melakukan stroke. Hal ini karena Tyo yang dua senar raketnya putus pada hari pertama, terpaksa meminjam raket milik Sandi. Setelah memasuki game ke-4, stroke Tyo kembali menggigit setelah raket miliknya berhasil dipasang senar. Reynaldi yang pernah memenangi kategori ini sebanyak tiga kali, masih unggul atas Heri Bintore dengan skor ketat 8-6.

Final tunggal putra akhirnya mempertemukan Andi Cakravastia (Icak) dengan Reynaldi Prasetyo (Tyo). Game pertama bukan tanda yang baik bagi Icak. Servisnya patah begitu saja oleh Tyo. Icak yang mengandalkan spin dan servis twist, tidak berdaya menghadapi groundstroke tajam dan bertenaga dari Tyo. Babak final tunggal bebas dimenangkan oleh Tyo dengan skor 8-2.

Pertandingan sengit berlangsung pada babak final ganda bebas dan ganda 35. Final ganda bebas mempertemukan Reynaldi Prasetyo/Gilbert Sondakh vs Sandi Gunawan/Andi Cakravastia. Sementara ganda 35 mempertemukan pasangan Aryo Wicaksono/Erwin Danuadji vs Chandra Kamarga/Riyadi Agung. Dua pertandingan yang berjalan sengit berlangsung secara paralel. Fokus penonton tidak jarang beralih antara memperhatikan final ganda bebas atau final ganda 35.

Terdapat poin-poin cantik disajikan oleh final ganda 35. Permainan taktis pasangan Chandra Kamarga/Riyadi Agung kali ini harus rela menyerahkan gelar kepada Aryo Wicaksono/Erwin Danuadji yang mengandalkan kombinasi permainan cepat dan penuh tenaga yang penuh kejutan. Aryo Wicaksono/Erwin Danuadji menang 8-6.

Final ganda bebas yang mempertemukan unggulan 3 (Reynaldi Prasetyo/Gilbert Sondakh) dengan unggulan 1 (Sandi Gunawan/Andi Cakravastia) menyajikan pertandingan yang ketat. Kedua pasangan saling mempertahankan serve hingga kedudukan 7-6. Sayang, pada game ke 14 ketika Gilbert memegang serve, Sandi/Andi berhasil mematahkan sekaligus membuat pertandingan berakhir dengan kedudukan akhir 8-6.

Raihan apik Sandi/Andi berhasil memecah puasa gelar yang berlangsung dua tahun terakhir. Dengan kemenangan ini pasangan yang belum pernah berpisah sejak pertama kali helatan turnamen telah mengumpulkan total 8 gelar (1 gelar ganda 35, 7 gelar ganda bebas) . Hal ini sekaligus mengukuhkan mereka sebagai pasangan paling sukses dalam turnamen.

Secara keseluruhan tidak banyak kejutan terjadi pada helatan tahun ini. Para juara adalah para unggulan yang notabene adalah para langganan juara. Namun, kasus menarik terjadi pada kategori ganda 45. Agus Maryono/Oberlin, yang diunggulkan di posisi 2, mampu meraih gelar juara. Perlu dicatat, gelar juara ini adalah yang pertama untuk Agus Maryono sebagai sekjen. Menjadi tambah spesial karena melengkapi gelar juara Liga PTG Jakarta yang diraih tahun ini. Saking gembira mendapatkan juara, bahkan terjadi kejadian menarik sampai-sampai tas tenis Agus Maryono ketinggalan di lapangan tenis setelah yang bersangkutan pulang ke rumah (terlalu fokus memegang piala?). 

Banyak teori berseliweran mengenai kesuksesan yang diraih Agus Maryono. Pertama, ada yang mengatakan berkat Agus Maryono yang rajin datang latihan reboan di Elite Club. Kedua, karena aktivitas Agus Maryono selaku sekjen yang membawa berkah hingga ke lapangan. Atau mungkin karena dua faktor tersebut? Dua hal tersebut, sering datang latihan maupun berkontribusi di dalam PTG, tentu pantas dicoba para maniak tenis ITB yang ingin memperoleh gelar juara.

Akhirnya, sekitar pukul 16.00 acara penutupan turnamen mulai digelar. Momen ini menjadi sesuatu yang spesial tidak hanya bagi mereka yang berhasil menang dipertandingan tenis, tetapi seluruh peserta turnamen karena akan dibagikannya Grand Doorprize paket wisata persembahan dari touress.com . Ada dua paket yang dibagikan yaitu ke Dubai dan ke Uzbekistan, keduanya komplit termasuk tiket pesawat, hotel dan tour! Panitia menetapkan aturan bahwa hadiah paket wisata ini hanya akan diberikan bagi mereka yang setia hadir sampai penghujung acara. Sehingga sempat beberapa kali nama yang disebutkan tidak berhasil menerima hadiah karena yang bersangkutan telah pulang duluan. Alhasil, Fero Gusfa yang jauh-jauh datang dari Padang, dan Pungky Haryono lah yang berhasil menyabet hadiah paling yahud dari kegiatan Ganesha ITB Cup 2019 ini.

Setelahnya, acara difokuskan kembali ke penyerahan medali dan prize money untuk setiap pemenang dari semua kategori pertandingan. Termasuk para semi-finalis, mendapatkan juara 3 bersama lengkap dengan medali dan prize money juga. Bersyukur, berkat fasilitas yang memadai dan cuaca yang baik akhirnya rangkaian acara bisa rampung sebelum masuk waktu maghrib. Sehingga para peserta yang datang dari luar kota pun bisa segera kembali ke domisilinya dan bersiap untuk beraktivitas di hari Senin yang sudah menunggu kita semua. Beberapa panitia yang tersisa di lokasi pun bersegera membereskan tempat acara dari segala perlengkapannya dan dengan gembira beranjak pulang dari Klub Kelapa Gading.